Segala yang bermain di fikiran insan akan jelas terpancar pada wajah dan setiap perbuatan. Kegembiraan dibayangi wajah tenang dan ceria sementara kedukaan pula dihantui muka murung dan resah gelisah dalam hidup seharian. Kesan kemurungan dan kegelisahan amat mencengkam, bahkan boleh merosakkan jiwa pengidapnya. Disusuli dengan kebosanan dan berputus asa hingga melemparkan diri ke lembah kehancuran.
Jadikan segala sesuatu untuk ibadah...menebar benih di dunia untuk menuai panen di dunia dan ukhrowi... Mencari ridlo ilahi (Allah SWT).........
Sabtu, 24 Agustus 2013
Minggu, 28 Juli 2013
Pandangan Cinta
Cinta memerlukan pengenalan, disusul dengan perhatian, lalu penghormatan
dan tanggung jawab, serta kesetiaan. -pada hakikatnya- tidak ada cinta
dari pandangan cinta pertama. lalu ingatlah bahwa kesetiaan bukan saja
menuntut pecinta menepati janji-janjinya tetapi juga memelihara nama
baik kekasihnya, dan memperbaiki penampilan dan aktifitasnya serta
menutupi kekurangannya bahkan berkorban untuknya.
-----dikutip dari M.qurais Sihab------
-----dikutip dari M.qurais Sihab------
Antara "Kebenaran dan Pembenaran"
Antara "kebenaran dan pembenaran"
Semua
anak Adam selalu menginginkan terjadinya hal-hal yang benar, selalu
ingin perilaku dan tindak tanduknya dinilai benar, selalu berharap orang
lain memberikan kepadanya hal-hal yang benar... Tapi ternyata hal-hal
yang dianggap benar, atau dinilai benar tidak semuanya berdasarkan pada
Kebenaran. Terkadang hal-hal yang terlihat atau tampak benar sebenarnya
hanyalah berdasarkan pembenaran semata. Tidak semua kesalahan sulit
dibungkus dengan retorika pembenaran. Tidak semua hawa nafsu telanjang
tanpa pakaian pembenaran. Tidak semua kepalsuan terlihat apa adanya.
Ada jarak yang jauh antara kebenaran dengan (yang sekedar) pembenaran. Karena: Kebenaran bersumber dari Allah, sedangkan pembenaran bersumber dari hati yang sakit.
Allah berfirman tentang kebenaran: “...kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu...” (QS. Al-Baqarah 147)
Sementara tentang pembenaran Allah berfirman: “...dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’ mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan...” (QS. Al-Baqarah 10-11)
Ada jarak yang jauh antara kebenaran dengan (yang sekedar) pembenaran. Karena: Kebenaran bersumber dari Allah, sedangkan pembenaran bersumber dari hati yang sakit.
Allah berfirman tentang kebenaran: “...kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu...” (QS. Al-Baqarah 147)
Sementara tentang pembenaran Allah berfirman: “...dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’ mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan...” (QS. Al-Baqarah 10-11)
Guru Yang Pantas Mengajar
Guru yang paling pantas mengajar adalah orang yang mendidik keluarganya dengan baik.
Pemimpin yang paling pantas memimpin adalah orang yang memimpin keluarganya dengan baik.
Karena,
Ada guru yang hanya mengajar di sekolah, tapi teladan yang buruk di rumah.
Dan,
Ada pemimpin yang hanya anggun dan gagah di luar, tapi tidak hadir mengindahkan hati keluarganya, kecuali dalam kekasaran saat dia marah.
Marilah kita memulai keindahan hidup kita dari keluarga.
Keluarga adalah tempat awal tercurahkannya rahmat dan berkah dari Tuhan.
Mario Teguh - Wishing you a wonderful holiday with the familyGur
Pemimpin yang paling pantas memimpin adalah orang yang memimpin keluarganya dengan baik.
Karena,
Ada guru yang hanya mengajar di sekolah, tapi teladan yang buruk di rumah.
Dan,
Ada pemimpin yang hanya anggun dan gagah di luar, tapi tidak hadir mengindahkan hati keluarganya, kecuali dalam kekasaran saat dia marah.
Marilah kita memulai keindahan hidup kita dari keluarga.
Keluarga adalah tempat awal tercurahkannya rahmat dan berkah dari Tuhan.
Mario Teguh - Wishing you a wonderful holiday with the familyGur
Minggu, 21 Juli 2013
Adakah Sifat-Sifat Abu Jahal dalam diri kita?
Sifat-Sifat Abu Jahal
Dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 29-32, sebagian besar para mufassir mengartikan "AJROMU" dengan merujuk kepada Abu jahal dan kawan-kawan atau kaum Musyrikin Mekkah yang berusaha menggagalkan syiar Islam oleh Nabi Muhammad SAW dengan berbagai upaya yang dilakukannya antara lain:
1. Apabila bertemu dengan orang-orang yang beriman, Golongan Abu Jahal beserta kaum Musyrikin Mekkah selalu menertawakannya dengan nada mengejek, menghina orang-orang yang beriman.
2. Apabila orang-orang beriman lewat dihadapannya, mereka saling memicingkan atau mengedipkan mata-mata (sebagai ejekan).
3. Apabila mereka bertemu atau kembali kepada kaumnya, mereka bersuka ria
4. Mereka selalu memandang orang-orang beriman sebagai orang-orang yang sesat.
Pada Zaman ini Abu jahal tidak ada, namun sifat-sifat Abu Jahal ternyata ada dalam sebagian kaum muslimin mereka bila melihat orang-orang yang menjalan Agama Islam selalu merendahkan dan mengejek. Ucapan-ucapan yang muncul dari mulut mereka seperti "sok alim, sok ibadah, dll bahkan beberapa golongan lain menuduh golongan yang lain sebagai orang-orang yang sesat tanpa didasari dengan alasan yang jelas dan yang ada dalam sanubbari mereka atau dalam hawanafsunya yang bertentangan dengan golongannnya adalah orang-orang yang sesat. Nau'dzu billah min dzalik....
Dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 29-32, sebagian besar para mufassir mengartikan "AJROMU" dengan merujuk kepada Abu jahal dan kawan-kawan atau kaum Musyrikin Mekkah yang berusaha menggagalkan syiar Islam oleh Nabi Muhammad SAW dengan berbagai upaya yang dilakukannya antara lain:
1. Apabila bertemu dengan orang-orang yang beriman, Golongan Abu Jahal beserta kaum Musyrikin Mekkah selalu menertawakannya dengan nada mengejek, menghina orang-orang yang beriman.
2. Apabila orang-orang beriman lewat dihadapannya, mereka saling memicingkan atau mengedipkan mata-mata (sebagai ejekan).
3. Apabila mereka bertemu atau kembali kepada kaumnya, mereka bersuka ria
4. Mereka selalu memandang orang-orang beriman sebagai orang-orang yang sesat.
Pada Zaman ini Abu jahal tidak ada, namun sifat-sifat Abu Jahal ternyata ada dalam sebagian kaum muslimin mereka bila melihat orang-orang yang menjalan Agama Islam selalu merendahkan dan mengejek. Ucapan-ucapan yang muncul dari mulut mereka seperti "sok alim, sok ibadah, dll bahkan beberapa golongan lain menuduh golongan yang lain sebagai orang-orang yang sesat tanpa didasari dengan alasan yang jelas dan yang ada dalam sanubbari mereka atau dalam hawanafsunya yang bertentangan dengan golongannnya adalah orang-orang yang sesat. Nau'dzu billah min dzalik....
Sabtu, 20 Juli 2013
Kelurga Sakinah Mawaddah dan Rahmah
Salah satu di antara kebahagiaan yang tidak
bisa dinilai dengan materi ialah kebahagiaan hidup dalam keluarga yang sakinah,
mawaddah wa rahmah. Sehingga ada ungkapan seorang penasehat perkawinan,
“andaikan di dunia ia da surga, surga itu ialah perkawinan yang bahagia.
Andaikan di dunia ia ada neraka, neraka itu adalah perkawinan yang gagal.”
Syariat Islam tentang munakahat atau
perkawinan dan kehidupan keluarga adalah bertujuan untuk mewujudkan kehidupan
yang diliputi ketenangan dan kebahagiaan, atau dalam istilah agama disebut
sakinah.
Dalam al Qur’an, Allah menggunakan istilah
mitsaaqon ghaliizha (perjanjian yang kokoh) ketika menyebut hubungan yang kokoh
dengan akad nikah di antara manusia. Pernikahan menuntut setiap orang yang
terkait di dalamnya untuk memenuhi hak dan kewajiban secara konsisten baik
sebagai suami maupun sebagai istri dalam posisi dan kedudukan yang adil Keluarga sakinah tidaklah terwujud begitu
saja, tetapi diperlukan ikhtiar atau kiat-kiat untuk membina, memelihara,
mempertahankannya. .
Kiat Membina keluarga sakinah.
1.Islam
mengajarkan agar seorang muslim memperhatikan kriteria dalam memilih jodoh.
Rasulullahu’alaihi Wasallam membir tuntunan memilih jodoh sebagaimana terdapat
dalam Hadits Rosulullah SAW. Yang artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan itu
dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena
kecantikannya, dan karena agamanya. Maka carilah yang beragama supaya kamu
berbahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Diantara
suami istri hendaknya saling menutupi kekurangan dan melengkapinya.
Allah berfirman:
“.... mereka adalah
Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka.”(QS. Al Baqarah, 2:
187)
Abdullah
Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menjelaskan makna ayat di atas:
“Laki-laki dan perempuan menjadi pakaian satu sama lain, yakni saling menopang,
saling menghibur dan saling melindungi; menyesuaikan diri satu sama lain
seperti pakaian yang disesuaikan dengan badan kita.”
3. Suami
sabagai kepala keluarga wajib berupaya untuk menciptakan suasana yang damai,
anyaman dan menyenangkan bagi segenap anggota keluarganya. Allah memberikan
tuntunan dalam Al Qur’an:
وعاشروهنّ بالمعروف
“... dan bergaullah dengan mereka (istrimu)
secara patut (baik), (QS. An Nisa, 4: 19)
Langganan:
Postingan (Atom)